“Car Free Day” or “No Car Day”

Check the video…

What would be the best title for the video above?

1. Car Free Day or
2. No Car Day?

Which makes more sense? The first one or the second when it is meant what the video plays? To get the gist of the narration? Or the essence of the video? Which?

according to online sources:

car: –noun
1. an automobile.
2. a vehicle running on rails, as a streetcar or railroad car.

car: a road vehicle, typically with four wheels, powered by an internal-combustion engine and able to carry a small number of people:we’re going by car

car: a : a vehicle moving on wheels: as a archaic : carriage, chariot b : a vehicle designed to move on rails (as of a railroad) c : automobile

as for “free” click on the three links to see more elaboration…
free (Merriam-Webster)
free (dictionary.com)
free (Oxford Dictionary)

So, your best answer for the title of the video?
Answer: one. Makes sense right, if title one is chosen.

I guess the people who came up with the phrase “Car Free Day” should look and think again, maybe to the East i.e. China. And, paraphrase it to “No Car Day” if the meaning or what is being put forward is not what has been nicely put into moving picture as above. Well, maybe not just the East, maybe common sense would do here.

As for Bahasa Indonesia, would we still use “Car Free Day” and “Hari Bebas Kendaraan” or “No Car Day” and “Hari Tanpa Kendaraan”?

Antara News : “Car Free Day” Jakarta Jadi Dua Kali Sebulan
Lahirnya Kebiasaan Baru Warga Kota – KOMPAS.com
Tempointeraktif.Com – Jadwal Hari Bebas Kendaraan Bermotor Tahun 2011

We know the answer, right?

Dwell on it.

Penerjemahan Kini

Penerjemahan kini telah menjadi sebuah lahan yang menarik bagi mereka yang terlanjur cinta dengan kebahasaan.

Dengan asosiasi bernama Himpunan Penerjemah Indonesia, sebagai wadah resmi dan Bahtera yang informal, sektor ini yang dapat dikatakan masuk ranah layanan, mendapat tempat di hati dan kantong masyarakat.

Di hati, semakin banyak individu yang berminat, terjun dan berkecimpung di dalamnya, serta bersusah dan bersenang di sini. Kantong: banyak dari para penerjemah ini yang telah mengglobal dan mendapatkan imbal untuk membuat dapur tetap mengepul alias mendapatkan pemasukan yang cukup memadai. Bahkan ada berita seorang penerjemah dapat membeli sebuah mobil keluarga mungil yang baik secara kontan dari menangani satu proyek penerjemahan. Bayangkan!

Ini bukan isapan jempol belakang. Lagi-lagi ada berita yang dapat dipercaya, hasil dari berkecimpung di dunia ini seorang penerjemah profesional dapat membeli rumah kedua.

Ada berbagai faktor yang dapat membuat bidang ini cukup berkembang yakni para individu yang dengan motto asih, asah, asuh membuat individu-individu cemerlang lain datang untuk turut membantu membesarkan dan memberikan makna lebih tinggi bagi bidang ini. Ibarat gula yang dikerubungi semut-semut, industri, kalau boleh dikatakan demikian, juga wujud karena besarnya pasar di Indonesia bagi produk global.

Demikian juga dahsyatnya internet, peran Google turut juga berkontribusi terhadap berkembangan penerjemahan atau istilah lainya localization alias lokalisasi (bagusnya pelokalan karena lokalisasi sudah mendapat tempat sebagai makna lain).

Bagaimanapun juga, cerita singkat dan non-akademik ini dapat membukakan pintu di hati dan pikiran semua yang berkepentingan.

Semoga.